Halaman

Selasa, 24 November 2020

Sejarah Kampak Trenggalek ( Versi 2 )

( Sumber gambar dari Pixabay )

Pada tulisan sejarah Kampak yang pertama (1) telah disebutkan bahwa Kampak sudah eksis ketika Mpu Sindok berkuasa. Walau tulisan bercampur antara fiksi, dongeng dan sejarah, setidaknya ada benang merah antara ketiganya. Tulisan yang pertama menyebut, Kampak yang berarti Perampok. Untuk tulisan yang ke-dua saya akan menulis dari sisi lain. Walau juga mungkin akan tetap bercampur antara fiksi, dongeng, sejarah dan penglihatan mata batin. Daerah Kampak itu daerah kuno, mungkin sebelum Medang Mataram eksis, Kampak sudah eksis. Perampok di Kampak memang sudah eksis sejak jaman dahulu kala, bahwa sekelas Ken Angrok-pun pernah berdiam dan mencari kesaktian di Kampak. Dan setelah Ken Angrok mendapatkan Manik-Oro atau mustika kuning, kemudian Ken Angrok bergeser ke Dam Bagong Trenggalek untuk merampok orang-orang yang melintas di jalur Ponorogo Trenggalek pada jamannya. Mungkin menurut Pararaton, Ken Angrok didukung Pendeta-pendeta Syiwa adalah pendeta-pendeta yang berdiam di daerah Kampak. Karena sejak dahulu wilayah Kampak juga wilayah pertapaan. Kemudian setelah berguru dan bersemedi di gunung Manik-Oro, Ken Angrok mendapatkan Mustika Kuning (Manik-Oro). Dengan Mustika ini, Ken Angrok seakan mendapatkan kekuatan dahsyat, kemudian merebut Tumapel, menghancurkan Kediri kemudian mendirikan kerajaan baru sekaligus menjadi raja Singasari yang pertama.

Kembali pada sejarah Kampak, menurut dongeng gunung Manikoro adalah pucuk atau puncak dari Gunung Kelud yang terlempar sejak jaman purba dan sejak jaman kerajaan di jawa timur selalu di puja-puja sebagai tempat bertahtanya Bhatara atau Hyang. Demikian pula pada jaman Mpu Sindok, gunung Manik-Oro dianggap semacam Cungkup atau Tempat Pemujaan kepada Hyang atau Bhatara. Sehingga ada Dapungku yang memohon kepada Raja Mpu Sindok untuk menjadikan sawah di sekitar tempat pemujaan sebagai sima atau tanah bebas pajak. Seperti yang tertulis pada inskripsi pada Prasasti Kampak Prasada Kebaktyan i Pangarumbigyan yang artinya Tempat Kebaktian di Manik-Oro/Cungkup sebagai jelmaan dari puncak gunung Kelud. Sama dengan pemujaan di Walandit pada Prasasti Gulung-gulung atau lainnya. Memang ada keanehan atau mungkin keistimewaan, bentuk gunung Manik-Oro kalau dilihat dari sisi timur akan nampak seperti Mahkota. Juga bukan kebetulan sehingga Mpu Sindok menyimpan Mahkotanya di gunung Manik-Oro. Konon letaknya di goa puncak gunung dan dijaga oleh naga hijau. Goa ini berujung di gunung Kumbokarno Pantai Prigi Watulimo.

Asal Usul Kampak

Kembali pada sejarah dari mana nama Kampak pertama kali berasal. Ini tidak terlepas dari sebuah tempat di lereng sebelah selatan Manik-Oro, sekarang tempat itu dinamakan Dukuh Pesu Desa Karangrejo, Kampak. Pada tahun 1980an ke bawah penduduk Pesu banyak menemukan perhiasan-perhiasan emas kuno yang berserakan di ladang-ladang dan sekitar daerah Pesu. Ini bisa diartikan, Pesu adalah bekas tempat pemukiman kuno. Dongeng yang berkembang selama ini tak lepas dari tempat seseorang yang bernama Ronggo Pesu pada jaman Mataram Islam. Menurutku, Pesu sudah ada dan jadi tempat pemukiman sebelumnya semacam kerajaan kecil. Terbukti dengan adanya Makam Tunggul Manik raja dari Kerajaan Pesu yang dikuburkan di sisi timur gunung Manik-Oro. Dari namanya mungkin raja ini ada pada masa Majapahit. Namun ada bukti juga dari nama Pesu itu muncul jauh dari kata Kampak. Pesu adalah kependekan penyebutan dari kata PARASU yang artinya Kapak atau Kampak, untuk menyebut Parasu pada bahasa Kawi. Sedang Parasu sendiri adalah bahasa Sangsekerta. Jadi sebelum masa Mpu Sindok sudah ada Kerajaan yang bernama PARASU di lereng gunung Manikoro sebelah selatan. Kerajaan ini mungkin eksis pada awal-awal kebudayaan sangsekerta hadir atau ada di Jawa. Jadi jauh sebelum Kerajaan Medang Mataram ada, kerajaan PARASU atau PESU sudah ada dengan persenjaatan prajuritnya sebuah Kapak/Kampak. Sehingga terkenal dengan nama kerajaan Parasu, atau mungkin sebuah tempat dari Bhagawan Parasurama yang berhasil mengalahkan Arjunasasrabahu dan kemudian di kalahkan Rama dalam kisah Ramayana. 

Bukti lain Pesu lebih tua dari tempat manapun di Trenggalek adalah. Kata orang tua penulis, dulu sebelum peristiwa G30S atau mungkin setelahnya setiap acara Ulang Tahun Kabupaten Trenggalek, tumpeng dan segala macam pusaka berangkat pertama dari Dukuh Pesu kemudian ke Sumber Ngudalan dan selanjutnya ke Kamulan Durenan terus ke Kantor Bupati Trenggalek. Artinya orang-orang tua dahulu sudah mengetahui daerah mana yang dimintai berkah karena tuanya. Dan orang-orang dahulu-pun tidak bisa sembarangan bisa menentukan suatu tempat layak dihormati atau tidak karena orang-orang dahulu kuat berpuasa/tirakat, bersih hatinya dan kedalaman ilmunya. Tidak mengherankan pada Prasasti Kampak pada masa Mpu Sindok, tempat ini juga disebut, karena mungkin dari dahulu mungkin sudah terkenal. Karena seiring waktu bahasa kesustraanpun berganti, maka kata Parasu atau Pesu di ganti dengan Kampak. Mungkin bahasa Kampak untuk Kapak dimulai pada era bahasa Jawa Kuno atau Kawi dan berlanjut hingga kini. Namun di Jawa sendiri atau khususnya daerah Kampak kata Kampak atau Kapak telah berubah menjadi Prekhul, namun nama tempatnya masih bahasa lama Pesu atau Parasu.

Demikianlah sejarah peradapan bisa berubah-ubah tergantung oleh bukti-bukti baru yang bisa memperkuat suatu pendapat. Namun tidak bisa terbantahkan, Kampak adalah tempatnya kumpulan orang-orang pengacau atau perampok/begal. Karena menurut orang-orang tua Kampak sampai tahun 1950-1960 masih ada sisa-sisa orang sakti Kampak yang berprofesi sebagai perampok dan beroperasi di wilayah Pacitan, Ponorogo dan Tulungagung.

Rabu, 18 November 2020

Angka Tahun Prasasti Kampak

Mempelajari Sejarah masa lalu seperti menjawab teka-teki. Untuk menjawab kepastian kita perlu bukti yang dapat dibuktikan dengan ilmiah dan masuk akal. Bukti sejarah mencakup data-data baik berupa inskripsi, benda atau orang yang terlibat dalam sejarah itu. Walau pada kenyataannya Sejarah adalah siapa yang menang dan menguasai panggung sejarah. Namun. walau begitu tak ada salahnya kita merangkai puzel-puzel itu menjadi jalinan perjalanan umat manusia dari dahulu, sekarang dan yang akan datang. Kebenaran sejarah juga akan selalu berkembang dan lentur seiring bukti-bukti baru yang ditemukan pada saat sekarang dan yang akan datang. Mengkaji Sejarah adalah Seni Probabilitas, kemungkinan-kemungkinan yang akan selalu berkembang. Dan itulah menariknya sejarah, tak ada hal yang mutlak. Analisa satu di bantah analisa yang lain, demikian seterusnya.

Prasasti Kampak adalah situs sejarah dari masa Kerajaan Medang Pu Sindok, menurut sebagian besar sejarawan dan arkeolog. Tulisan dalam prasasti ini banyak yang aus dimakan usia dan dalam Bahasa/Aksara Jawa Kuno. Sekian lama prasasti ini seperti terpinggirkan, karena tulisannya banyak yang aus, sehingga nama raja dan angka tahunnya tidak bisa terbaca. Hal inilah yang membuat para sejarawan/arkeolog enggan atau tidak menarik untuk menelitinya, juga tempat penemuannya yang jauh dari pusat kerajaan. Namun bagi masyarakat tempat ditemukan prasasti ini, dia menjadi pedoman dan pegangan dari mana mereka berasal. Ternyata sejak jaman kerajaan-kerajaan kuno, tempat atau wilayah ini sudah mendapat perhatian dari Raja atau setidaknya Pejabat Kerajaan.

Sudah banyak sejarawan maupun arkeolog mencoba untuk menjawab angka tahun pada Prasasti Kampak, seperti Dr. Brandes yang telah meng-alihaksara-kan prasasti ini. Dr. Brandes memperkirakan Prasasti Kampak dibuat pada tahun 850 Saka atau 928 Masehi tanpa memberikan penjelasan yang memuaskan sejarawan lain. Dan hingga kini hal tersebut menjadi teki-teki. Namun bagi penulis yang kebetulan lahir di tempat Prasasti Kampak berasal ( sekarang di Museum Nasional Jakarta ), menjadikan hal tersebut Semangat walau pada akhirnya tetap masuk dalam probabilitas-probabilitas, serba kemungkinan. Masih banyak lagi data-data pendukung yang diperlukan untuk menjawab kepastian. Dalam hal ini, penulis masih menggunakan sumber dari OVO (Oud=Javaansche Oorkonden) karya Dr. J.L.A.Brandes, Tentara Hindia Belanda yang merangkap sebagai arkeolog dan menjadi rujukan sejarawan dan arkeolog.

Semua prasasti yang ada di Indonesia khususnya di Jawa selalu dicantumkan Raja maupun Pejabat-pejabat yang mendapatkan hadiah dari Sang Empu Acara. Dari sinilah penulis membandingkan dengan prasasti-prasasti lain pejabat-pejabat masa Kerajaan Medang yang menjabat pada jabatan dan sama dengan Prasasti Kampak. Ada 3 prasasti yang bisa jadi pembanding.

1. Prasasti Gulung-gulung ( Singosari - Malang ):

    Hari Selasa, tanggal 9 Sulapaksa, Bulan Waisaka Tahun 851 Saka, (20 April  929 Masehi)

2. Prasasti Jeru-Jeru ( Singosari - Malang ):

    Bulan Bhadrawada Tanggal 11 Krsnapaksa Tahun 852 Saka (26 Mei 930 Masehi)

 3. Prasasti Turryan ( Turen - Malang ):

     Bulan Śrawana Tanggal 15 Śuklapaksa Tahun 851 Śaka (24 Juli 929 Masehi)

Untuk Prasasti Jeru-Jeru, penulis meragukan tahunnya karena pejabatnya sama persis dan menjabat pada posisi masing-masing dengan Prasasti Gulung-gulung, Prasasti Turryan dan Prasasti Kampak. Karena rentang 20 April 929 M s/d 24 Juli 929 M pejabatnya masih sama dalam posisi masing-masing. Namun pada Prasasti Sarangan 5 Agustus 929 pejabatnya sudah berubah, Dyah Saharsa sudah masuk dalam Pejabat Tinggi, Halaran dijabat Dyah Surendra, Manghuri dijabat Dyah Narendra. Artinya Prasasti Jeru-Jeru harusnya berangka tahun 851 (26 Mei 929 Masehi). Jika demikian halnya, maka kemungkinannya Prasasti Kampak dikeluarkan sebelum 20 April 929 M atau rentang 20 April 929 M sampai 5 Agustus 929 M. Jika diasumsikan Tiap Bulan mengeluarkan prasasti pada tahun 929 M, ada bulan Kosong yaitu Juni 929 M. Jika sebelum 20 April 929, maka kemungkinan ada di bulan Maret 929. Mengingat pembacaan pada prasasti lain pada Pemerintahan Pu Sindok, umur jabatan tidak begitu lama. Jadi ada 2 bulan kemungkinannya yaitu Maret dan Juni 929 Masehi. Melihat dari urut-urutan tanggal pada Ketiga prasasti di atas dengan metodi Cocoklogi (hehehehe....), kemungkinan tanggal Prasasti Kampak adalah 18 Maret 929 M atau 22 Juni 929 M. 

Dibawah ini Daftar Jabatan beserta Pejabatnya :

Prasasti Gulung-gulung  851 C

Hari Selasa, tanggal 9 Sulapaksa, Bulan Waisaka Tahun 851 Saka, (20 April  929 Masehi)

Raja                           : i crï maharaja rake halu pu sindok crï ïcanawikrama dharmmottunggadewa

Rakai Sirikan            : Dyah Hamarendra

Rakai Wka                : Dyah Balyang

Rakyan Momahumah / Madander : Pu Padma

Anggehan                  : Pu Kundala

Tiruan                        : Dapunta Taritip

Halaran                      : Pu Gu?ottama

Mamrati                     : (Hawang wi?)caksana

Manghuri                   : Pu Pandamuan

Talimpik                    : Pu Dhanuka

Dalinan                      : Pu Karsana

Wadihati                     : Sang Dinakara

Akudur                       : Pu Balawan

Panggil Hyang            : ..............

Tuhan I Wadihati 2 miramirah  : Sang Halang Pahung

Halaran                       : Sang Lbur Poh

Tuhan I Makudur 2 watu wale? : Sang Ramajjha

Watu Kilung                : Sang Tpussen

Pangurang i Wadihati  : Sa? Rawu?u

Pangurang i Makudur  : Sa? rakwěl

 

Prasasti Jeru-Jeru 852 C :

Bulan Bhadrawada Tanggal 11 Krsnapaksa Tahun 852 Saka (26 Mei 930 M)

Raja                           : i śrī mahārāja śrī īśānawikrama dharmmotunggadewa

Rakai Sirikan             : Dyah Amarendra

Rakai Wka                 : Dyah Balyang

Rakyan Momahumah / Madander : Pu Padma

Anggehan                   : Pu Kundala

Tiruan                         : Dapunta Taritip

Halaran                       : Pu Gunottama

Mamrati                      : Hawang Wicaksana

Manghuri                    : Pu Pandamuan

Talimpik                      : Pu Daduka(danuka?)

Dalinan                        : Pu Karsana

Wadihati                       : Sang Dinakara

Akudur                         : Pu Balawan

Panggil Hyang              : ..............

Tuhan I Wadihati 2 miramirah  : Sang Halang Palung

Halaran                         : Sang Lbur Poh

Tuhan I Wakudur 2 watu walaing : Sang Ramangsa

Watu Kilung                 : Sang Tpusan

Pangurang i Wadihati   : Sang Rawungu

Pangurang i Makudur   : Sang Rakwěl

 

Prasasti Turryan 851 C :

Bulan Śrawana Tanggal 15 Śuklapaksa Tahun 851 Śaka (24 Juli 929 Masehi)

Raja                           : śrī mahārāja rake hino dyaḥ śrī īśānawikrama dharmmotunggadewawijaya

Rakai Sirikan             : Dyah Amarendra

Rakai Wka                 : Dyah Balyang

Rakyan Momahumah / Madander : Pu Padma

Anggehan                   : Pu Kundala

Tiruan                         : Dapunta Taritip

Halaran                       : Pu Gunottama

Mamrati                      : Hawang Wicaksana

Manghuri                    : Pu Pandamuan

Talimpik                      : Pu Dhaduka(danuka?)

Dalinan                        : Pu Karsana

Wadihati                       : Sang Dinakara

Akudur                         : Pu Balawan

Panggil Hyang              : ..............

Tuhan I Wadihati 2 miramirah  : Sang Halang Palung

Halaran                         : Sang Lbur Poh

Tuhan I Wakudur 2 watu walaing : Sang Ramangsa

Watu Kilung                  : Sang Tpusan

Pangurang i Wadihati    : Sang Rawungu

Pangurang i Makudur    : Sang Rakwěl

 

Prasasti Kampak .......C :

..............................................................................................................................................................

Raja                           : i mdang i bhu(mi?) mataram

Rakai Sirikan             : Dyah (A?)marendra

Rakai Wka                 : Dyah Balyang

Rakyan Momahumah / Madander : --------

Anggehan                   : -----------

Tiruan                         : Dapunta Taritip

Halaran                       : Pu Gurananttama

Mamrati                      : Hawang Wicaksana

Manghuri                    : Pu Pandamuan

Talimpik                      : -------------

Dalinan                        : ----------

Wadihati                      : Sang Dinakara

Akudur                        : Pu Balawan

Panggil Hyang            : Pu Glo

Tuhan I Wadihati 2 miramirah  : Sang Halang Palang

Halaran                        : Sang Palbarap(Lbur Poh?)

Tuhan I Wakudur 2 watu walaing : Sang Rama(ngsa?)

Watu Ka(ilung?)           : (Sang Tpusa?)n

(Pangurang i Wadihati?) : Sabowangka(Sang Rawungu?)

Pangurang i Makudur   : ----------

Dari data-data di atas, Prasasti Kampak memang dikeluarkan pada 929 Masehi seperti yang diyakini sebagian besar masyarakat. Walau pada umumnya berdasar asumsi sejarawan tanpa penjelasan yang memadai. Berdasar lokasi penemuan prasasti-prasasti yang dikeluarkan Pu Sindok antara tahun 928 sampai dengan 929 dimana, pada Prasasti Turryan dari daerah Turen Malang sekarang disebutkan Ibukota Kerajaan Medang di Bumi Mataram adalah di Tamwlang, besar kemungkinan Lokasinya di sekitar Gunung Kawi. Atau juga bisa di daerah Blitar, tepatnya di desa/sekitar TEMBALANG, kecamatan Wlingi. Lokasinya tidak jauh dari Candi Plumbangan yang berbentuk seperti Gapura pada jaman Majapahit. Di dekatnya juga bertebaran prasasti-prasasti sejak sebelum jaman Pu Sindok atau sesudahnya, seperti Prasasti Penumbangan 1 & 2 dan lainnya. Kata Tembalang juga mirip Tamwlang. Huruf (w) biasa dibaca (b). Pembacaannya jadi Tamblang, sering diucapkan dengan lidah jawa jadi TEMBALANG. Juga mirip Tembelang kecamatan di Jombang. Sebagian besar prasasti ditemukan di daerah Malang Utara, Tengah, Selatan, Barat, Trenggalek, Mojokerto, Nganjuk, Jombang, dll. Juga melihat begitu seringnya Rakyan Hujung (Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Madura) meminta anugrah sima pada Raja, tentunya Hujung merupakan daerah bawahan yang berpengaruh pada masa Pu Sindok. Semoga tulisan ini menjadi tambahan ilmu untuk generasi sekarang dan yang akan datang.Sejarah adalah Ilmu Probabilitas, sekarang diyakini benar pada masa yang akan datang belum tentu benar. Hukum Dialektika adalah Universal. karena itulah syarat untuk hidup dan berkembang.


Refferensi :

OVO Dr. Brandes

Prasasti gulung-gulung

Prasasti Jeru - Jeru

Prasasti Sarangan

Prasasti Turyyan/Turen

Minggu, 15 November 2020

Prasasti Kampak


Menurut penuturan orang-orang tua Kampak, Prasasti Kampak diambil dari Sumber di Ngudalan, Dukuh Kampak, Desa Karangrejo, Kecamatan Kampak, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Dan itu sudah lama sekali sejak jaman Pemerintahan Hindia Belanda. Menurut Arkeolog Belanda Dr. Brandes dulu di Residence Surabaya kemudian dibawa ke Musium Batavia sejak tahun 1862 dengan nomor regristasi D.21, kini jadi Musium Nasional. Dalam Oudheidk. Bureau no. 220 en 331;afgietsel Leiden Ethn. Mus. no. 2979 (üat. Juynboll p. 231).Dr. Brandes menjelaskan batu ini dalam Katalog (hlm. 379 sq.) sebagai berikut: “Pecahan batu yang sangat besar (telur bagian atas), dengan kepala bulat, dan permukaan melengkung. Abu-abu. Batu andesit. Dijelaskan di empat sisi dengan Huruf Jawa Kuno Timur. Di depan, di sana-sini tidak terbaca, 15 baris, di belakang 13 baris dan satu baris setengah huruf, di permukaan sisi kiri hanya terbaca 3 baris, dan di sisi kanan hanya 2 baris.(akhir prasasti) Tinggi 89 cm, lebar 93 cm dan tebal 22 cm.

Isinya tentang Penganugerahan Sima (Tanah Bebas Pajak) untuk pembangunan Bhatara i sang hyang prasada kabhaktyan i pangurumbigyan i Kampak. Dan penyebutan {mang)raksa kadatwan crï maha(raja) i mdang i bhu(mi) mataram beserta pejabat-pejabat pada masa pemerintah Pu Sindok awal yang mendapatkan hadiah pada peresmian itu. Juga kutukan-kutukan bagi yang merusak sima dan selama ini salah dipahami oleh sebagian masyarakat khususnya masyarakat Trenggalek, bahwa itu batas sima. 

".....wuk k(i)dul kuluan waitan, wuangakan ringa.....salambitakan ing (h)yang kabaih, tibakan ri(ng) mahasamudra, klamakan ring dawuhan, alapan sang hyang ja "

Terjemahan :

"sebelah selatan barat timur, buanglah dalam/ke......dihancurkan oleh Hyang semua, jatuhkan dalam mahasamudera, tenggelamkan dalam bendungan, disambar Sang Hyang ......."

Inskripsi ini juga ada di Prasasti Sugih Manek, Prasasti Sarangan, dll. Prasasti Kampak angka tahunnya tidak terbaca, namun ada Kesamaan Pejabat yang Menjabat pada beberapa Prasasti diantaranya Prasasti Gulung-Gulung 851 Saka, Prasasti Jeru-Jeru 852 Saka, Prasasti Linggasuntan 851 Saka, Prasasti Turryan/Turen 851 Saka. Jadi bisa diartikan tahun pembuatan Prasasti Kampak antara tahun 851-852 Saka atau 929-930 M. Untuk pembahasan tentang angka tahun pembuatan Prasasti Kampak yang tidak bisa terbaca, akan saya analisa dalam tulisan selanjutnya.


Berikut Isi Prasasti Kampak yang dikutip dari Transkripsi OJO oleh Dr. Brandes dengan Terjemahan bebas :

Depan

1.......t(i)ngkës

  ......tameng/ prajurit bertameng

2.....wli (tambang), wli panjut, wli harëng, pagulung, pabisar, palamak..hapu...(pa)sukala(s)

  .....pembeli tali/tambang, pembeli kayu (obor/pelita), pembeli arang, tukang pedati, peternak hewan        peliharaan, pembuat tikar,....kapur sirih...pengawas hutan

3.....pulung padi, skar tahun, panrangan, panusuk,....kawan, mahaliman, kdi, (walya)n, widu(ma)ngidu(ng), sambal sumbul halan haji

  .....pengurus panen padi, upeti, petugas penerangan, panusuk,....kawan, pemelihara gajah, kelainan seks, dukun/tabib, pesinden pelantun kidung, sambal sumbul, abdi raja

4......ty(e)wamadi tan tama rikanang sawah sima pangurumbi(g)yan i kampak kewala bhatara i sawah prasada kabhaktyan i pangurumbigyan atah pramana i sa

  ......dan sebagainya tidak boleh memasuki sawah sima Pemujaan Hyang Manikoro/Cungkup (Puncak Gunung Kelud yang terlempar  pada jaman purba) di Kampak (wilayah Parasu/Pesu) hanya Pemangku di sawah Persada Kebaktian di Pemujaan Hyang Manikoro/Cungkup semua hasil dari

5...........mangkana ikanang sukha duhkha kadyangganing mayang tanpawuah, walung ramambat ring natar wipati wangkai kabunan, rah kasawur ing dalan, wak capala, duhilatan hidu kasirat

    (petugas pajak) demikianlah termasuk denda-denda tindak pidana seperti bunga kelapa yang tidak berbuah, labu merambat di halaman, kematian yang mayatnya terkena embun, darah tertumpah di jalan, memaki, menarik kembali janji, ludah tersembur

6........mamijilakan wuri ning kikir, mamuk mamampang ludan tuttau danda kudanda mandihaladi, bhatara i sang hyang prasada kabhaktyan atah parana ni drabya hajinya kunang

    berkelahi meninggalkan bekas senjata tajam, mengamuk, merampok, menyerang, memburu,menyiksa, ejek mengejek, semua hasil pajaknya untuk Pemangku dari Sang Hyang Persada Kebaktian adapun

7........misra manambul, manawring, manglaka mangapus, mapalangan, mangawar, matarub manggula, mangdyun, ma(ng)hapu, manula wungkudu, manglurung, magawai rungki, payung wlu, mopih, akajang,

   (pajak) perajin, pembuat pewarna hitam, pembuat kain tipis, pembuat pewarna merah, pembuat tali jerat, pembuat tali kekang, pembuat tempat berlindung, pembuat tenda, pembuat gula, pembuat periuk, pembuat kapur sirih, pembuat tembikar, pengolah mengkudu, pembuat minyak jarak, pembuat payung anyaman, pembuat payung bulat, penjahit (upih=potongan kain),pembuat tirai,

8. magawai kisi, mamubut, manganamanam, manawang, manahib, mamisandang manuk, makalakala, kapwa ya triyagan drbyahajinya sadüman nmara i bhatara, sadüman umara i

    pembuat barang anyaman, tukang bubut, pembuat anyaman, pembuat jaring, pembuat sangkar, pembuat perangkap burung, pembuat jerat binatang, hendaknya dibagi menjadi tiga (3) bagian pajaknya, satu bagian untuk Pemangku sima, satu bagian untuk

9. sang makmitan sima, sadnaian maparaha i sang mangilala drabyahaji, irikang kala maagasëaken dapungku pasambah i cri maharaja mas sa 2 ma 8 wdihan tapis ya 1 rakai sirikan

     sang pemelihara sima, satu bagian untuk petugas pajak, di saat itu Dapungku pasambah mempersembahkan Sri Maharaja emas 2 swarna 8 masa sepasang kain untuk lelaki jenis Tapis, Rakai Sirikan

10......marendra, rake wka pu balyang, samgat momahumah kalih madander anggéhan, tiruan dapunta taritip,...inangsëan pasak pasak mas su 1 ma

      (Dyah?) Amarendra, Rake Wka Pu Balyang, Samgat Momahumah dengan Madander Anggehan, Tiruan Dapunta Taritip, persembahan hadiah emas 1 suwarna ..Masa

11......n cadar yu 1 sowang sowang, mamrati hawang wicaksana, manghuri pu pandamuan, halaran pu guranantama, panggil hyang pu glo, inangsëan pa

      masing-masing sepasang kain (untuk lelaki jenis) Cadar, Mamrati Hawang Wicaksana, Manghuri Pu Padamuan, Halaran Pu Guranantama, Panggil Hyang Pu Glo, persembahan

12. sak mas ma 1, wdihan cadar yu 1 sowang sowang wadihati sang dïnakara, akudur pu balawan, inangsëan pasak pasak s(u) 1 ma

      hadiah emas 1 masa, masing-masing sepasang kain untuk laki-laki Cadar. Wadihati Sang Dinakara, Akudur Pu Balawan persembahan hadiah uang emas 1 masa

13......dar yu 1 sowang sowang, tuhan i wadihati miramirah sang halang palang, halaran palbarrap, tuhan i makudur 4 watu walai sang rama , watuka

     masing-masing sepang (kain untuk laki-laki jenis Cadar?), pemimpin di Wadihati Miramirah Sang Halang Palang, Halaran Palbarrap, pemimpin di Makudur 4 Watu Walai Sang Rama, Watuka

14. ..............n, wineh pasak .......................ma, .........sabowangka, pangurang i makudur

     ................n, diberi hadiah........................ma............sabowangka, pangurang di makudur

15...............jisamat (akhir)

     ...............jisamat

Belakang

1...........................................

  ............................................

2. ....................ksinapaccirnottara maddhya, urddhammadbab, rawicaci ksiti...jala

    ....................ksinapaccirnottara maddhya, urddhammadbab, rawicaci ksiti...jala

3...................garuda gandharbwa, sarbwalokapala yama baruna kuwera basawa niuang putra dewa

   ..................garuda gandharbwa, sarbwalokapala yama baruna kuwera basawa niuang putra dewa

4..................nagaraja durggadewï, caturacra, ananta surendra, ananta byang kalamrtyü, gana bhïïta,

   ..................nagaraja durggadewï, caturacra, ananta surendra, ananta byang kalamrtyü, gana bhïïta,

5............raksa kadatwan crï maha(raja) i mdang i bhu(mi) mataram, kita umilu manarïra, umasuking sarbwa carïra, kita sakala saksi bhüta, tumon madoh lawan maparë

   pelindung Kedatuan Sri Maharaja Medang di Bumi Mataram, engkau yang telah menjelma, masuk ke badan semua, engkau semua sebagai saksi tetap,dari yang jauh maupun yang dekat

6. (ring ra)hina ring wngi addengë a...............samaya sapatha sumpah pamangmang mami ri kita hyang  kabeh, yawat ikanang ngwang duracara, tan magam tan makmit i

    dari siang maupun malam dengarkanlah ini janji kutukan sumpah serapah dariku wahai engkau Hyang semua, jika ada orang yang berbuat jahat,tidak melaksanakan dan tidak memelihara

7. rikang sapatha si hatan sa..........t kudur hadyan hulun matuha rare, lakilaki wadwan, wiku grhastha muang patih wahuta rama, nayaka parttaya

   ini kutukan...............................makudur kalangan bangsawan pendeta patuhlah baik laki-laki maupun wanita, kepala kebiksuan, juga patih Wahuta Rama, pamong praja parttaya

8.............................lahul(aha) ikeng lmah sawah i kampak, sima inarpanakan dapungku i manwpujanma, i bhatara i sang hyang prasada kabhaktyan i pangurumbigyan i

    ...mengganggu dimana tanah sawah di kampak (wilayah Parasu/Pesu), sima dipersembahkan oleh Dapungku Manupujanma Pemangku dari Sang Hyang Persada Kebaktian di Pemujaan Hyang Manikoro/Cungkup di

9. kampak wabakataya nguniweh da.........ta sa(ng) hyang watu sima tasmat kabuatakuanya, patyanantaya kamung hyang deyantatpatïya tattanoliha i wuntat

      kampak (wilayah Parasu/Pesu) milik pribadi atau.................Sang Hyang Batu Sima kepada yang dibebankan, bunuhlah dia olehmu Hyang bunuhlah olehmu tidak bertindak di belakang

10. (tat?)tinghala i likurën, tarung ring adëgan, tampyal i wirangan uwahi i tnganan, tutuh tundanya, blah kapalanya, sbitakan wtangnya, rantan ususnya, wtuakan

      tidak melihat ke samping, berkelahi berhadapan, memukul dari sisi kiri dan kanan, kemudian menghancurkan, belah kepalanya, robekkan dan potong ususnya, keluarkan

11......lmanya, duduk hatinya pangan dagi(ng)nya, inum rahnya, tëhër pëpëddhakan wkasan pranantika, yan pararing alas pangananning mong, patukanning ula, pulirakuaning dewa

      dalamnya, tusuk hatinya makan dagingnya, minum darahnya, kemudian akhirnya melengkapi kematian, jika masuk ke hutan jadi makananya harimau, dipatuk ular, dipilin oleh dewa

12. (ma)ny(u), yan pararing tgal alapanning glap, sampalanning raksasa, pangananning wu(i)l si............an..........hyang kucika garggametrï kurusya patanjala, suwuk la

      manyu?, jika pergi ke ladang akan disambar petir, dihancurkan raksasa, makanannya raksasa,...................Hyang Kucira Garggametri Kurusya pelindung, sebelah (utara?)

 13......wuk k(i)dul kuluan waitan, wuangakan ringa.....salambitakan ing (h)yang kabaih, tibakan ri(ng) mahasamudra, klamakan ring dawuhan, alapan sang hyang ja

       sebelah selatan barat timur, buanglah dalam/ke......dihancurkan oleh Hyang semua, jatuhkan dalam mahasamudera, tenggelamkan dalam bendungan, disambar Sang Hyang .......

14. (Setengah baris, setengah huruf)

Sisi Kiri

1..........ngkari iwak knas prakara, anadah sira kabeh yan

      (menangkap?) semua jenis ikan, untuk kamu semua.......

2. n kurawu, kuri.......t dwadwal, kapwa mangulur

    n kurawu, kuri........t menjual, bersama mangulur

3...........tih pramukha, kapwa manambah humarep i

    .........tih pemimpin, bersama manambah humarep i

Sisi Kanan

1..........iniglakan, malungguh sira muwah winuwahan tambul

   .........minum-minuman, duduk kamu menambah makanan

2..........kapwa umulih i humah nira, likhita(patra) citralekha i ha

  ..........hendaknya pulang ke rumah sendiri, ditulis oleh Juru Tulis I ha

(Tamat)

Refferensi :

1. OVO - Dr. J. L. A. Brandes

2. Skripsi Ninik Setrawati "Perdagangan. Pada Masa Mpu Sindok Berdasarkan Data Prasasti

3. Prasasti Sugih Manek Limus

4. Prasasti Gulung-Gulung

5. Prasasti Jru-Jru

6. Prasasti Sarangan

7. Prasasti Waharu 1

8. Études d'épigraphie Indonésienne - L C Damais

9. Kawi Oorkonden - Dr. A. B. Cohen Stuart